KAJIAN PENGEMBANGAN KELOMPOK USAHATANI

PEMBIBITAN KARET KLON UNGGUL DI KALIMANTAN BARAT

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kalimantan Barat memiliki potensi cukup besar dalam pengembangan bidang pertanian terutama sub sektor perkebunan. Masih luasnya lahan yang dimiliki oleh daerah dan topografi daerah-daerah atau kabupaten-kabupaten yang berada di Kalimantan Barat menjadi alasan hal tersebut. Selain direncanakan untuk dijadikan pusat penanaman kelapa sawit nasional, melalui ICRAF daerah Kalimantan Barat juga dijadikan salah satu daerah yang memiliki tanaman karet klon unggul dengan produktivitas lateks yang tinggi . Langkah awal pengusahaan usahatani karet yang baik adalah masyarakat petani karet perlu untuk menggunakan bahan tanam (bibit) karet yang berkualitas dan mampu menghasilkan lateks yang tinggi. Mengingat amat pentingnya bibit dalam menentukan perbaikan pembangunan perkebunan karet, maka usahatani pembibitan perlu dikelola dengan baik. Sebuah lembaga penelitian agroforestri otonom yang bersifat nirlaba yang dikenal dengan

International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF) memperkenalkan pengelolaan usahatani pembibitan dengan menggunakan bibit-bibit yang berkualitas yang berasal dari klon-klon baru dan telah diteliti di berbagai pusat penelitian di Indonesia.

Kegiatan pengembangan usahatani pembibitan karet di daerah Sanggau dan Sintang telah berjalan cukup lama dengan ICRAF sebagai lembaga yang membimbingnya. Pembinaan yang dilakukan ICRAF adalah memperkenalkan kepada petani mengenai bibit yang baik, membentuk kelompok tani pembibitan karet, melakukan pelatihan dan pembinaan teknik pembibitan yang baik dan pemberian motivasi dalam pengelolaan pembibitan. Melalui pembinaan ini diharapkan hasil produksi bibit karet dapat memberikan manfaat kepada petani-petani karet. Meskipun pembinaan telah banyak dilakukan, perkembangan usahatani pembibitan masih menghadapi beberapa kendala. Kendala – kendala tersebut antara lain munculnya usahatani pembibitan yang dikelola secara pribadi, belum luasnya daerah pemasaran bibit yang dihasilkan, serangan hama dan penyakit, teknologi pembibitan yang masih sederhana, harga jual bibit karet yang masih rendah dan minimnya keahlian serta pengetahuan untuk menghasilkan bibit klon unggul.

Usahatani pembibitan karet di Kalimantan Barat di daerah Sanggau dan Sintang telah mengalami perkembangan dalam peningkatan produksi bibit tiap tahunnya. Untuk tahun 2004, masing-masing pembibitan di dua daerah tersebut telah dapat memproduksi lebih dari 5000 batang bibit tanaman karet. Peningkatan produksi bibit karet ini harus dapat meningkatkan pendapatan petani khususnya dan sector pertanian pada umumnya. Peningkatan produksi yang besar apabila tidak diimbangi dengan pemasaran yang baik justru akan membawa akibat sebaliknya bagi petani yaitu pendapatannya menurun karena harga bibit karet murah dan terdapat pasokan bibit dari lokasi pembibitan lain di luar dua kabupaten ini.

Melihat kendala-kendala yang muncul dalam perkembangan usahatani pembibitan karet tersebut, maka perlu dilakukan penelitian untuk mendalami dan mengkaji masalah-masalah tersebut dan pada akhirnya diharapkan akan didapat pemecahannya demi kelangsungan usahatani pembibitan karet di daerah Sanggau dan Sintang.

B. Masalah Penelitian

Yang menjadi masalah dalam kelompok usahatani pembibitan karet klon unggul tersebut adalah berapa tingkat pendapatan petani penangkar bibit karet, bagaimana kelembagaan kelompok dan pemasaran untuk menunjang peningkatan pendapatan petani, dan faktor-faktor apa saja yang menjadi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman usahatani pembibitan karet tersebut.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini dilakukan adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan petani penangkar bibit, kelembagaan kelompok dan pemasaran usaha pembibitan serta alternatif strategi pemasaran yang dapat dilakukan pada usahatani pembibitan karet klon unggul.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat dari penelitian ini adalah diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak ICRAF untuk dapat kembali melakukan introduksi karet klon unggul dan pengenalan pola pengelolaan kebun pembibitan karet yang lebih modern dan diharapkan dapat menjadi bahan informasi bagi peneliti lain yang berminat untuk meneliti kebun pembibitan karet secara lebih mendalam.

METODE PENELITIAN

A. Metode Dan Penentuan Lokasi Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode sensus yang lokasi penelitiannya dipilih secara sengaja (purposive) yaitu di Desa Mait Hilir Sintang dan Desa Maringin Jaya Sanggau dengan pertimbangan bahwa di dua desa tersebut terdapat usahatani pembibitan karet secara kelompok.

B. Variabel Penelitian

Variabel-variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah variabel biaya yang meliputi biaya tetap dan biaya variabel, penerimaan yang didapat oleh petani, pendapatan petani penangkar bibit karet, kelembagaan kelompok dan pemasaran pembibitan karet, faktor-faktor kekuatan dalam usahatani pembibitan karet, faktorfaktor kelemahan usahatani pembibitan karet, faktor-faktor peluang usahatani pembibitan karet dan faktor-faktor ancaman usahatani pembibitan karet.

C. Analisis Data

Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan perhitungan pendapatan riil petani yang didapat dari selisih antara total penerimaan petani dengan total biaya yang dikeluarkan petani, analisis secara deskriptif dengan menggunakan metode wawancara secara mendalam terhadap responden dan menganalisis secara deskriptif factor internal-eksternal usahatani pembibitan yang kemudian dilakukan analisis SWOT untuk mendapatkan strategi pemasaran yang tepat.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Pendapatan Petani Penangkar Bibit Karet

Setelah penelitian dilakukan didapatkan hasil penelitian bahwa pendapatan rata-rata petani penangkar bibit karet pada dua desa tersebut cukup besar, yaitu Rp. 13.251. 299,61 dalam luasan lahan rata-rata 0,45 hektar dalam satu tahun. Berarti dalam tiap bulannya petani penangkar rata-rata memiliki pendapatan sebesar Rp.1.104. 274, 97 yang menandakan bahwa pendapatan mereka cukup besar dan ini pula yang menjadi alasan mereka menjadikan pembibitan karet menjadi pekerjaan utama mereka. Meskipun demikian, ketertarikan mereka baru muncul 2 tahun belakangan ini. Hal ini diawali dengan melihat kesuksesan petani penangkar bibit karet sebelumnya sehingga mereka juga tertarik untuk mengusahakan pembibitan karet klon unggul.

B. Kelembagaan Kelompok Dan Pemasaran Pembibitan Karet

Kelompok usahatani yang mereka miliki merupakan kelompok yang berbentuk informal. Artinya, kelompok mereka tidak memiliki status atau tidak dilegitimasi secara hukum. Mereka tidak memiliki struktur organisasi yang lengkap, dalam kelompok tersebut hanya terdapat satu orang ketua dan selebihnya adalah merupakan anggota kelompok. Karena merupakan kelompok informal yang status keanggotaannya tidak mengikat maka para anggota dapat keluar maupun masuk menjadi anggota kelompok dengan bebas tanpa ada aturan yang mengikat mereka.

Begitu pula dengan manajemen pembukuan dalam kelompok, mereka tidak memiliki pembukuan yang mengatur pemasukan maupun pengeluaran yang terjadi dalam transaksi jual beli bibit karet milik mereka, sehingga mereka hanya dapat memperkirakan besar keuntungan yang mereka miliki setiap menjual bibit karet milik mereka.

Sistem pemasaran yang mereka gunakan adalah merupakan sistem pemasaran secara langsung, dimana bibit karet yang mereka produksi langsung mereka jual kepada konsumen bibit karet mereka yang biasanya adalah proyek pemerintah maupun petani karet sekitar. Mereka tidak menggunakan pedagang perantara apapun dalam menjual bibit karet yang mereka miliki. Ketua kelompok dari dua desa tersebut juga bukan merupakan pedagang pengumpul bibit karet tersebut karena mereka hanya dijadikan tempat untuk mengumpulkan bibit-bibit karet dari tiap anggota kelompok dengan tujuan untuk memudahkan dalam pengangkutan dan pemasaran kepada konsumen. Harga yang diterima oleh petani penangkar dengan harga bibit karet yang dijual adalah sama. Setelah bibit diterima oleh konsumen dan dibayar, kemudian hasil penjualan tersebut diberikan kepada masing-masing anggota sesuai dengan jumlah bibit yang mereka hasilkan. Tujuan dari responden masuk menjadi anggota kelompok pembibitan, baik di Desa Mait Hilir maupun Desa Maringin Jaya adalah sama, yaitu untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Dengan menjadi anggota kelompok, maka perekonomian keluarga menjadi lebih meningkat yang disebabkan biaya produksi yang mereka keluarkan menjadi lebih sedikit.

Berdasarkan hasil penelitian, kepaduan dalam kelompok pembibitan karet daerah Sintang maupun Sanggau cukup tinggi. Yang membedakan antara kelompok pembibitan Desa Mait Hilir dengan Desa Maringin Jaya adalah asal dari para anggota kelompok. Anggota kelompok pembibitan Desa Mait Hilir merupakan para transmigran dari Pulau Jawa, sedangkan kelompok pembibitan Desa Maringin Jaya merupakan campuran antara warga Melayu pendatang dengan penduduk asli Sanggau (Dayak). Perbedaan tersebut menjadikan kelompok pembibitan di Desa Mait Hilir lebih kompak dan mampu memiliki banyak anggota. Hal ini dikarenakan antusiasme dan rasa persaudaraan yang cukup kuat sehingga para warga Desa Mait Hilir banyak yang menjadi anggota kelompok.

Yang membedakan antara kelompok pembibitan Desa Mait Hilir dengan Desa Maringin Jaya adalah asal dari para anggota kelompok. Anggota kelompok pembibitan Desa Mait Hilir merupakan para transmigran dari Pulau Jawa, sedangkan kelompok pembibitan Desa Maringin Jaya merupakan campuran antara warga Melayu pendatang dengan penduduk asli Sanggau (Dayak). Perbedaan tersebut menjadikan kelompok pembibitan di Desa Mait Hilir lebih kompak dan mampu memiliki banyak anggota. Hal ini dikarenakan antusiasme dan rasa persaudaraan yang cukup kuat sehingga para warga Desa Mait Hilir banyak yang menjadi anggota kelompok.

Meskipun demikian, dua kelompok tersebut memiliki kepaduan (cohesivitas) yang cukup tinggi. Tidak pernah ada konflik yang muncul dalam kelompok mereka. Kepemimpinan merupakan hal yang penting dalam kelangsungan hidup suatu kelompok. Kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi dan menggerakkan orang lain, sehingga mereka bertindak dan berperilaku sebagaimana diharapkan, terutama bagi tercapainya tujuan yang diinginkan. Peran kedua ketua kelompok pada masing-masing kelompoknya dirasakan oleh para anggota cukup memberikan andil dalam kemajuan kelompok mereka. Peran dari ketua kelompok Desa Mait Hilir untuk menciptakan iklim yang sehat dalam kelompok cukup berhasil. Segala urusan yang berkaitan dengan usaha pembibitan, terutama pemesanan bibit karet selalu dibicarakan di dalam musyawarah meskipun tidak rutin dilakukan. Begitu pula dengan kelompok Desa Maringin Jaya, Peran ketua kelompok pembibitan Desa Maringin Jaya (Muhamad Nuh) dalam memberikan semangat kepada anggota untuk terus berproduksi menjadikan kelompok pembibitan karet ini dikenal oleh banyak masyarakat sekitar daerah Parindu.

Kegiatan utama dari kelompok pembibitan karet di dua daerah tersebut adalah sama, yaitu memasarkan bibit karet secara kelompok, bukan individu. Seluruh bibit yang siap dipasarkan dikumpulkan pada satu tempat, di mana pada kedua kelompok tersebut dikumpulkan ke ketua kelompok, yang kemudian ketua kelompok akan memasarkan langsung ke konsumen. Tetapi ketua kelompok bukan merupakan pedagang pengumpul, karena harga yang diterima oleh petani penangkar dengan harga bibit karet yang dijual adalah sama. Setelah bibit diterima oleh konsumen dan dibayar. Kemudian hasil penjualan tersebut diberikan kepada masing-masing anggota sesuai dengan jumlah bibit yang mereka hasilkan.

C. Analisis SWOT

1. Analisis SWOT Usahatani Pembibitan Karet

a. Analisis Faktor Internal Usahatani Pembibitan Karet

a. 1. Faktor Kekuatan (Strengths), yaitu menganalisis variabel-variabel kekuatan yang dimiliki oleh petani dalam pemasaran bibit karet klon PB 260. Adapun variabel kekuatan tersebut adalah :

a. Informasi pasar tersedia

Secara umum, petani penangkar bibit karet tidak mengalami kesulitan ataupun merasa kurang dalam mendapatkan informasi mengenai pasar, terutama mengenai harga dari sarana produksi penunjang pembibitan karet seperti pupuk, herbisida, alat-alat pertanian serta harga jual dari bibit karet. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,106 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah tersedianya informasi pasar mengenai bibit karet mempunyai pengaruh yang baik dan penting.

b. Luas lahan yang cukup tersedia

Para petani merasakan lahan yang mereka miliki saat ini belum mencukupi, mengingat meningkatnya permintaan akan bibit karet maka dengan luas lahan yang mereka miliki masih kurang. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,127 dan nilai ratingnya 1, artinya adalah variabel ini dirasakan tidak begitu baik pengaruhnya bagi petani penangkar bibit karet.

c. Banyak menyerap tenaga kerja

Penyerapan tenaga kerja yang lumayan besar terjadi disaat mengolah lahan pembibitan mulai dari penebangan hingga pembakaran. Selanjutnya terjadi diwaktu penanaman dan pengokulasian. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,098 dan nilai ratingnya 2, artinya adalah banyak menyerap tenaga kerja tersebut dirasakan cukup baik pengaruhnya demi kemajuan dan pengembangan usahatani pembibitan karet.

d. Pengalaman dalam usaha pembibitan karet

Di dua kelompok tersebut, masing-masing kelompok memiliki ketua kelompok yang cukup berpengalaman dalam usahatani pembibitan. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,139 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini dirasakan memiliki pengaruh yang cukup baik terhadap produktivitas petani penangkar.

e. Kualitas bibit yang dijual baik

Di kedua kelompok pembibitan karet tersebut telah menghasilkan bibit klon PB 260 dengan kualitas yang baik, karena sebelum pengiriman bibit kepada konsumen, bibit-bibit tersebut telah disortir terlebih dahulu untuk menghindari pemasaran bibit yang rusak dan tidak berkualitas. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,114 dan nilai ratingnya 3, artinya variabel ini mempunyai pengaruh yang baik bagi usaha pembibitan karet klon unggul dan mempengaruhi pula dalam peningkatan jumlah permintaan konsumen akan bibit karet.

a.2. Faktor Kelemahan (Weakness), yaitu menganalisis variabel-variabel kelemahan yang mempengaruhi petani penangkar bibit dalam pemasaran bibit karet klon unggul. Adapun variabel kelemahan tersebut, yaitu :

a. Terbatasnya sarana dan prasarana produksi

Hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,114 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini mempunyai pengaruh yang cukup jelek bagi usaha pembibitan karet dan mempengaruhi kelancaran produksi bibit karet klon unggul.

b. Modal kerja terbatas

Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,098 dan nilai ratingnya 2, artinya adalah variabel ini memberikan pengaruh yang jelek bagi petani penangkar bibit karet, yaitu dalam berproduksi bibit karet yang lebih berkualitas.

c. Manajemen usahatani pembibitan masih sederhana

Masih sederhananya manajemen usahatani pembibitan tersebut membuat petani kesulitan dalam menghitung jumlah input produksi yang masuk, maupun jumlah bibit yang telah keluar, sehingga petani belum dapat menghitung pendapatan bersih yang mereka terima. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,098 dan nilai ratingnya 2, artinya adalah manajemen usahatani pembibitan yang masih sederhana ini memberikan pengaruh yang jelek bagi para petani penangkar bibit karet

d. Teknik pembibitan masih sederhana

Saat ini para petani penangkar bibit masih belum terlalu memperhatikan

kesesuaian teknik pembibitan. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,106 dan nilai rating sebesar 3, artinya adalah teknik pembibitan yang masih sederhana akan memberikan pengaruh yang cukup jelek terhadap jumlah produksi bibit karet yang mampu dihasilkan oleh petani penangkar bibit.

b. Analisis Faktor Eksternal Usahatani Pembibitan Karet

b.1. Faktor Peluang (Opportunities), yaitu menganalisis variabel-variabel peluang yang dimiliki oleh petani penangkar bibit karet klon PB 260. Adapun variabel peluang tersebut adalah :

a. Lingkungan alam yang mendukung dalam pengembangan usaha

Desa Mait Hilir dan Desa Maringin Jaya memiliki kondisi alam yang cukup baik untuk pengembangan usahatani pembibitan. Dari hasil penelitian, untuk variabel ini diperoleh nilai bobot sebesar 0,123 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah lingkungan alam daerah Mait Hilir memiliki pengaruh yang baik terhadap pengembangan usaha pembibitan karet klon unggul.

b. Kemajuan teknologi, informasi, transportasi dan komunikasi

Teknologi, informasi dan transportasi di dua desa tersebut telah cukup maju, sehingga petani penangkar bibit karet klon unggul dapat dengan mudah memperoleh informasi penting untuk memajukan usahatani pembibitan karet yang mereka miliki. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,109 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini memberikan pengaruh yang baik bagi petani dalam mengembangkan usahanya.

c. Adanya pasokan dan informasi bibit baru dari klon unggul

Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,100 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini memberikan pengaruh yang baik bagi petani mengenai adanya pasokan dan informasi bibit karet baru dari klon yang unggul.

d. Kesadaran masyarakat dalam menggunakan bibit baru dari klon anjuran

Peningkatan kesadaran masyarakat untuk menggunakan klon anjuran membuka peluang bagi petani penangkar bibit karet untuk mengusahakan pembibitan karet klon unggul, terutama klon PB 260. Hasil analisis pada variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,136 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini dirasakan baik pengaruhnya bagi petani penangkar bibit karet klon unggul sehingga mereka dapat memproduksi bibit lebih banyak.

e. Kebijakan pemerintah akan gerakan karet nasional

pemerintah menghimbau kepada masyarakat terutama masyarakat di daerah Sanggau ataupun Sintang untuk menanam tanaman karet di perkebunan mereka. Hasil analisis dari variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,155 dan nilai ratingnya 3, artinya adalah variabel ini dirasakan memiliki pengaruh yang baik bagi petani penangkar bibit karet dalam peningkatan produktivitas usahatani pembibitan karet mereka.

b.2. Faktor Ancaman (Threats), yaitu menganalisis variabel-variabel ancaman yang dimiliki oleh petani penangkar bibit dalam usaha pembibitan karet. Adapun variabel ancaman tersebut adalah :

a. Serangan hama dan penyakit

Dari hasil penelitian, variabel ini memiliki nilai bobot sebesar 0,073 dan nilai ratingnya sebesar 3, artinya adalah variabel ini berpengaruh cukup jelek terhadap produktivitas bibit karet yang diusahakan oleh petani. Serangan hama dan penyakit yang paling dirasakan oleh petani penangkar bibit karet klon PB 260 adalah serangan penyakit gugur daun yang menyebabkan bibit karet dapat menjadi mati.

b. Kenaikan biaya produksi

Kenaikan biaya produksi yang dirasakan oleh petani penangkar bibit karet klon PB 260 adalah harga bahan penunjang seperti pupuk dan obat-obatan. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,131 dan nilai ratingnya sebesar 2, artinya variabel ini memberikan pengaruh yang jelek bagi petani penangkar bibit karet klon PB 260.

c. Harga produk relatif murah

Secara umum, harga bibit karet klon unggul yang berkisar antara Rp.700-Rp.1000 dirasakan oleh petani penangkar bibit karet masih cukup rendah. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,100 dan nilai ratingnya sebesar 1, artinya adalah variabel ini memberikan pengaruh yang sangat jelek bagi petani penangkar bibit karet klon PB 260.

d. Pertumbuhan ekonomi yang rendah

Kelesuan perekonomian tersebut merupakan ancaman yang cukup berarti bagi usaha pembibitan karet, karena masyarakat cenderung untuk tidak melakukan usaha budidaya karet klon yang baru dan lebih mengutamakan mengusahakan (mengelola) kebun karet yang sudah ada. Dari hasil penelitian terhadap variabel ini didapatkan nilai bobot sebesar 0,073 dan nilai ratingnya sebesar 3, artinya adalah variabel ini memberikan pengaruh yang cukup jelek bagi petani penangkar bibit karet klon PB 260.

2. Matrik SWOT

Matrik ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi usaha pembibitan dapat disesuaikan dengan kekuatan dan kelemahan internal yang dimilikinya. Matrik ini dapat menghasilkan 4 set kemungkinan alternatif strategis, yaitu strategi SO (Strengths – Opportunities), Strategi ST (Strengths – Threats), Strategi WO (Weakness – Opportunities) dan Strategi WT (Weakness – Threats). Berdasarkan hasil penelitian pada faktor lingkungan internal dan eksternal usaha pembibitan karet klon unggul dengan menggunakan alat analisis matrik SWOT, diperoleh nilai analisis Matrik SWOT untuk masing-masing strategi yaitu strategi SO sebesar 3,269; strategi ST sebesar 2,200; strategi WO sebesar 2,921 dan strategi WT sebesar 1,852. Adapun alternatif strategi yang dapat direkomendasikan peneliti adalah strategi SO yang memiliki nilai analisis Matrik SWOT terbesar. Strategi SO yang dapat diterapkan oleh petani penangkar bibit karet adalah dengan meningkatkan kualitas bibit karet klon unggul yang diproduksi, meningkatkan kualitas sumber daya manusia petani penangkar bibit karet, memanfaatkan kemajuan teknologi, transportasi dan komunikasi untuk meningkatkan pengalaman dan pengembangan pengetahuan petani, memperluas atau menambah areal pembibitan serta bibit karet yang diproduksi dan meningkatkan pelayanan terhadap konsumen bibit karet.

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Usahatani pembibitan karet klon unggul di daerah Sintang dan Sanggau merupakan usahatani pembibitan karet dalam bentuk kelompok, terutama untuk Desa Mait Hilir Kabupaten Sintang dan Desa Maringin Jaya Kabupaten Sanggau.

2. Dari hasil penelitian terhadap dua kelompok pembibitan karet klon unggul dalam hal ini klon PB 260, diketahui pendapatan rata-rata dari petani penangkar bibit karet klon PB 260 adalah Rp.13.251.299,61 untuk luasan lahan rata-rata 0,45 hektar setiap tahunnya. Pendapatan sebesar itu didapat oleh petani dari penjualan bibit karet dengan kisaran harga Rp. 700 – Rp. 1000 per 1 batang Okulasi Mata Tidur (OMAT) yang mereka hasilkan.

3. Kelembagaan yang terdapat pada usahatani pembibitan karet di Desa Mait Hilir dan Desa Maringin Jaya merupakan kelompok informal yang tidak mempunyai struktur organisasi yang lengkap. Hanya ada ketua kelompok dan selebihnya adalah anggota kelompok, dengan sistem keanggotaan yang tidak mengikat.

4. Alternatif strategi pemasaran yang dapat digunakan oleh petani penangkar bibit karet klon PB 260 dalam usaha pengembangan pembibitan karet miliknya adalah berupa strategi SO (Strengths-Opportunities). Strategi ini adalah dengan meningkatkan kualitas bibit karet klon unggul yang diproduksi, meningkatkan kualitas SDM petani penangkar bibit karet, memanfaatkan kemajuan teknologi, transportasi dan komunikasi untuk meningkatkan pengalaman dan pengembangan pengetahuan petani, menambah areal pembibitan serta bibit karet yang diproduksi dan meningkatkan pelayanan terhadap konsumen bibit karet.

B. Saran

1. Permintaan pasar dunia akan produk karet merupakan peluang yang cukup besar bagi negara Indonesia, khususnya daerah Kalimantan Barat yang sejak dahulu masyarakat asli telah menanam karet. Mengingat peluang yang ada tersebut, baiknya pemerintah selaku pengambil keputusan dapat memikirkan kebijakan yang tepat yang dapat memberikan kesempatan bagi petani karet dan juga bagi petani penangkar bibit karet untuk meningkatkan produktifitas usahatani karet miliknya seoptimal mungkin. Dengan demikian, kedua pihak sama-sama mendapatkan keuntungan; bagi pemerintah hal ini dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan bagi petani hal ini dapat meningkatkan pendapatannya.

2. Perlu adanya struktur organisasi yang lengkap, manajemen pembukuan yang teratur dan jelas demi kelangsungan kelompok usahatani pembibitan karet, baik di Desa Mait Hilir Kabupaten Sintang maupun Desa Maringin Jaya Kabupaten Sanggau. Dua kelompok tersebut telah memiliki dasar kelompok yang kuat, yaitu ²royong², dan kekompakan sehingga dengan adanya kelengkapan struktur organisasi dan sah di mata hukum maka keberadaan kelompok pembibitan karet tersebut akan semakin mantap.

3. Petani penangkar bibit karet sebaiknya melakukan penanaman bibit karet bermacam-macam klon dengan tingkat resistensi yang berbeda di lahan pembibitan mereka. Ini bertujuan untuk menghindari apabila suatu saat terjadi serangan hama dan penyakit secara eksplosif yang menyebabkan kematian serempak pada bibit karet klon tertentu, petani masih memiliki cadangan bibit karet yang dapat dijual dan petani tidak kehilangan sumber pendapatan.

4. Untuk dapat lebih meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, para petani penangkar sebaiknya dapat melakukan diskusi-diskusi lintas kelompok, maupun diskusi dengan pihak-pihak yang cukup berpengalaman mengenai pembibitan karet klon unggul.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s